review-film-the-raid

Review Film The Raid

Review Film The Raid. Film The Raid (atau The Raid: Redemption di pasar internasional) arahan Gareth Evans yang rilis pada 2011 tetap jadi salah satu action thriller paling brutal dan revolusioner hingga 2026, terutama saat ulang tahun ke-15 dan kabar rencana remake Hollywood dengan Joe Carnahan serta Frank Grillo semakin ramai. Dibintangi Iko Uwais sebagai Rama dan Joe Taslim sebagai Jaka, film Indonesia dengan budget hanya 1,1 juta dolar ini raup lebih dari 9 juta dolar global, menang Midnight Madness di TIFF 2011, serta nominasi berbagai penghargaan termasuk Citra Awards. Dengan durasi 101 menit penuh pertarungan non-stop, The Raid ubah standar martial arts modern dengan pencak silat autentik dan intensitas claustrophobic. Review ini bahas kenapa film ini masih jadi benchmark action Asia. BERITA BASKET

Plot yang Ketat dan Karakter Efektif: Review Film The Raid

Cerita The Raid sederhana tapi brilian: tim SWAT elit 20 orang raid apartemen kumuh di Jakarta yang dikuasai bos narkoba Tama Riyadi (Ray Sahetapy). Rama (Iko Uwais), rookie religius yang lindungi adik hamilnya, jadi satu-satunya survivor setelah tim hancur total. Plot tak punya ruang napas—dari shootout awal, koridor darah, hingga duel Mad Dog (Yayan Ruhian) vs Jaka yang brutal. Karakter tak dalam tapi fungsional: Rama pahlawan tangguh dengan kode moral Islam, Jaka (Joe Taslim) pemimpin setia yang korban pengkhianatan, Wahyu (Pierre Gruno) antagonis korup. Tama dingin tapi karismatik sebagai raja sarang penjahat. Narasi linear tanpa twist murahan fokus pada survival, buat penonton tegang setiap detik.

Koreografi Pertarungan yang Luar Biasa: Review Film The Raid

Yang bikin The Raid legenda adalah fight choreography pencak silat oleh Iko Uwais dan Yayan Ruhian—realistis, brutal, dan inovatif. Setiap pukulan pakai full force tanpa wire-fu Hollywood, dengan pisau, machete, dan tangan kosong yang terasa mematikan. Duel Mad Dog vs Jaka di koridor sempit jadi salah satu best fights sepanjang masa: Mad Dog liar seperti anjing gila, Jaka judo presisi, darah berceceran 5 menit non-stop. Kitchen fight Rama vs preman pakai blender dan pisau dapur kreatif tapi sadis. Gareth Evans edit long take untuk tunjuk fluiditas silat, kamera handheld beri rasa claustrophobia gedung 15 lantai. Sound design—napas terengah, tulang retak, jeritan—buat aksi immersif. Bandingkan dengan Raid 2 yang lebih luas (150 menit, mafia epic), Raid 1 lebih fokus dan intens seperti Die Hard versi Indonesia.

Sinematografi, Sound, dan Warisan Global

Evans film dengan lighting gelap kumuh yang kontras darah merah cerah, wide shot tunjuk scale gedung sebagai labirin maut. Skor Mike Yancy minimalis tapi tegang, efek suara organik tanpa musik berlebih di fight. Film ini menang 9 awards lokal termasuk Best Director Citra, nominasi internasional seperti Chicago Film Critics. Rotten Tomatoes 87%, Metacritic 73—kritikus puji “no-frills thrills” meski plot tipis. Box office sukses 8x budget, remake Hollywood gagal (The Raid 2016 dibatalkan), bukti orisinal tak tergantikan. Di 2026, dengan Havoc Gareth Evans (Netflix 2025) sukses dan Raid 2 re-release, Raid 1 legacy sebagai pencetus “one location action” kuat—inspirasi John Wick, Atomic Blonde. Iko Uwais dan Joe Taslim jadi bintang global (Mortal Kombat, Star Wars).

Kesimpulan

The Raid 2011 adalah action masterpiece Indonesia yang definisikan martial arts modern dengan pencak silat brutal, plot ketat claustrophobic, dan koreografi genius Uwais-Ruhian. Gareth Evans ciptakan 101 menit non-stop intensity yang bikin penonton pegang kursi—dari koridor darah hingga Mad Dog frenzy. Di usia 15 tahun, film ini masih superior Raid 2 (lebih epik tapi panjang) dan remake gagal, bukti kualitas low-budget Asia. Rating 7.6 IMDb, 87% RT tunjukkan daya tahan—bukan plot dalam, tapi pure adrenaline. Bagi penggemar action Asia atau John Wick fans, The Raid wajib—film yang buat “serbuan maut” jadi genre sendiri. Klasik timeless yang ingatkan action terbaik sering datang dari gedung kumuh Jakarta, bukan Hollywood CGI.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *