Review Film House of the Dragon S3: Api dan Darah

Review Film House of the Dragon S3: Api dan Darah

Review Film House of the Dragon S3: Api dan Darah. House of the Dragon Season 3 tayang lengkap di HBO dan Max mulai 16 Juni 2025 hingga 4 Agustus 2025 dengan 8 episode, menjadi musim paling intens dan berdarah dalam seri ini. Berlatar puncak Perang Saudara Targaryen (Dance of the Dragons), season ini mengadaptasi bagian akhir dari Fire & Blood karya George R.R. Martin dengan fokus pada kehancuran total akibat ambisi kekuasaan. Dibintangi kembali Emma D’Arcy sebagai Rhaenyra Targaryen, Olivia Cooke sebagai Alicent Hightower, Tom Glynn-Carney sebagai Aegon II, serta Matt Smith sebagai Daemon Targaryen, season ini mendapat skor Rotten Tomatoes 91% Certified Fresh dari kritikus dan audience score 88%. Banyak yang menyebutnya sebagai musim terbaik sejauh ini karena skala pertempuran naga, pengorbanan karakter, dan nuansa gelap yang semakin mendekati Game of Thrones puncak. Ini adalah cerita api dan darah dalam arti harfiah—penuh kehancuran, pengkhianatan, dan tragedi yang tak terhindarkan. REVIEW KOMIK

Alur Cerita dan Plot: Review Film House of the Dragon S3: Api dan Darah

Season 3 dimulai setelah kematian Rhaenys di Rook’s Rest dan jatuhnya King’s Landing ke tangan Blacks di akhir Season 2. Rhaenyra kini duduk di Iron Throne, tapi kekuasaan itu rapuh karena Aegon II masih hidup dan didukung sisa loyalis Greens. Plot berfokus pada eskalasi perang total: pertempuran darat besar, serangan naga vs naga, dan pembantaian massal di berbagai wilayah Westeros. Ada beberapa momen ikonik dari buku yang diadaptasi dengan megah: Battle Above the Gods Eye antara Daemon dan Aemond yang menjadi salah satu adegan paling epik sepanjang seri, kehancuran Harrenhal, serta tragedi di Dragonstone dan Dragonpit. Season ini lebih brutal dari sebelumnya—banyak karakter utama dan pendukung tewas dengan cara yang menyakitkan dan tak terduga. Pengkhianatan, aliansi yang rapuh, dan keputusan politik yang salah terus mendorong spiral kehancuran. Ending season ini sangat gelap dan terbuka, meninggalkan nasib beberapa karakter utama menggantung sambil menunjukkan bahwa tidak ada pemenang sejati dalam perang saudara Targaryen. Pacing sangat cepat dan tidak ada pengisi—setiap episode terasa seperti bab penting dari sejarah Westeros yang penuh api dan darah.

Pemeran dan Penampilan: Review Film House of the Dragon S3: Api dan Darah

Emma D’Arcy sebagai Rhaenyra semakin menonjol sebagai ratu yang terpecah antara ambisi dan rasa bersalah atas korban perang. Penampilannya di adegan-adegan emosional setelah kehilangan besar sangat kuat dan penuh lapisan. Olivia Cooke sebagai Alicent memberikan nuansa tragis yang mendalam—karakternya yang dulu penuh perhitungan kini hancur karena menyadari perang yang ia dukung telah menghancurkan segalanya. Tom Glynn-Carney sebagai Aegon II tampil luar biasa sebagai raja yang cacat fisik dan mental setelah luka bakar parah—ia berhasil membuat penonton merasa simpati sekaligus takut pada karakternya yang semakin tidak stabil. Matt Smith sebagai Daemon tetap jadi favorit dengan campuran kegilaan, karisma, dan kesetiaan yang kompleks. Pemeran pendukung seperti Phia Saban (Helaena), Ewan Mitchell (Aemond), dan Bethany Antonia (Baela) juga memberikan penampilan yang kuat, terutama di adegan-adegan pertempuran naga. Secara keseluruhan, cast ini bekerja sangat harmonis dan membawa bobot emosional yang sangat berat pada musim penutup perang.

Elemen Api dan Darah

Musim ini benar-benar menghidupkan “api dan darah” sebagai tema utama. Pertempuran naga digambarkan dengan skala dan detail yang belum pernah ada sebelumnya—visual efek dari Industrial Light & Magic dan tim VFX HBO termasuk yang terbaik di televisi, dengan naga yang terasa hidup, ganas, dan sangat menakutkan. Adegan Battle Above the Gods Eye dan kehancuran Dragonpit menjadi highlight visual sepanjang seri. Namun horornya tidak hanya dari naga—ada kekerasan manusia yang sangat brutal: pembantaian massal, penyiksaan, dan kematian anak-anak yang membuat penonton merasa tidak nyaman. Tema utama adalah kehancuran yang disebabkan ambisi pribadi dan siklus kekerasan yang tak berujung. Tidak ada pahlawan sejati—semua pihak melakukan kejahatan demi kekuasaan. Musik Ramin Djawadi kembali jadi kekuatan besar, dengan tema-tema lama yang diaransemen lebih gelap dan menyedihkan. Beberapa penonton merasa season ini terlalu depressing dan kurang memiliki momen “heroic”, tapi justru itulah yang membuatnya terasa sangat setia pada visi George R.R. Martin.

Kesimpulan

House of the Dragon Season 3 adalah puncak dari seri ini—epik, brutal, dan sangat emosional, berhasil menutup babak Perang Saudara Targaryen dengan cara yang megah sekaligus menyakitkan. Emma D’Arcy, Olivia Cooke, dan seluruh cast memberikan penampilan terbaik mereka, sementara produksi visual dan narasi tetap kelas atas. Meski sangat gelap dan tidak memberi akhir bahagia, season ini terasa earned dan penuh hormat terhadap materi sumber. Bagi penggemar Game of Thrones dan House of the Dragon, ini adalah musim yang wajib ditonton—dan mungkin yang paling kuat secara keseluruhan. Skor keseluruhan: 9.5/10—api dan darah yang tak terlupakan, penutup yang layak untuk dinasti Targaryen yang penuh tragedi.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *