Review Film A Letter to My Youth: Kembali ke Masa Lalu

Review Film A Letter to My Youth: Kembali ke Masa Lalu

Review Film A Letter to My Youth: Kembali ke Masa Lalu. A Letter to My Youth tayang di bioskop Indonesia pada 7 Agustus 2025 dan langsung menjadi salah satu film drama romansa paling hangat tahun itu. Disutradarai Kamila Andini dengan skrip yang ia tulis bersama Ifa Isfansyah, film berdurasi 112 menit ini mengikuti perjalanan seorang wanita paruh baya yang secara tak terduga “kembali” ke masa mudanya melalui surat lama yang ditemukan. Dibintangi Dian Sastrowardoyo sebagai Laras dewasa dan Aurora Ribero sebagai Laras muda, film ini menggabungkan elemen time-slip ringan dengan drama keluarga dan refleksi diri yang dalam. Dengan sinematografi indah dan musik yang menyentuh hati, A Letter to My Youth mendapat sambutan positif dari penonton dan kritikus, terutama karena kemampuannya membangkitkan nostalgia tanpa terasa klise. Ini adalah film tentang penyesalan, pengampunan, dan bagaimana masa lalu membentuk siapa kita hari ini. REVIEW KOMIK

Alur Cerita dan Plot: Review Film A Letter to My Youth: Kembali ke Masa Lalu

Cerita dimulai dari Laras (Dian Sastrowardoyo), seorang arsitek sukses berusia 45 tahun yang hidup sendirian setelah perceraian dan hubungan dengan anak perempuannya renggang. Suatu hari ia menemukan kotak tua berisi surat-surat yang pernah ia tulis untuk dirinya sendiri di usia 20-an. Surat itu berisi mimpi, cinta pertama, dan janji-janji yang tak pernah terpenuhi. Saat membacanya, Laras tiba-tiba mengalami kilas balik yang terasa sangat nyata—ia “hidup kembali” sebagai dirinya yang muda (Aurora Ribero) selama beberapa hari di tahun 2000-an. Di masa lalu, Laras muda sedang jatuh cinta pada seorang musisi jalanan bernama Rama (Iqbaal Ramadhan), tapi memilih meninggalkannya demi mengejar beasiswa ke luar negeri. Kembali ke masa itu, Laras dewasa mencoba memperbaiki kesalahan: ia ingin memperingatkan dirinya muda agar tidak mengorbankan cinta demi ambisi. Namun, setiap perubahan kecil justru menciptakan efek riak yang mengubah hidupnya sekarang—termasuk hubungan dengan anaknya dan alasan mengapa ia berakhir sendirian. Plot bergerak bolak-balik antara masa kini dan masa lalu dengan transisi halus, membangun ketegangan emosional hingga klimaks di mana Laras harus memilih: mempertahankan “keberhasilan” hidupnya atau mengembalikan cinta yang hilang. Akhirnya bittersweet namun penuh harapan, memberikan ruang bagi penonton untuk merefleksikan pilihan hidup mereka sendiri.

Pemeran dan Penampilan: Review Film A Letter to My Youth: Kembali ke Masa Lalu

Dian Sastrowardoyo memberikan penampilan yang matang dan penuh lapisan sebagai Laras dewasa. Ia berhasil menyampaikan rasa penyesalan, kelembutan, dan kekuatan seorang ibu yang belajar memaafkan dirinya sendiri. Chemistry-nya dengan Aurora Ribero sebagai Laras muda terasa nyata—keduanya berhasil membuat penonton percaya bahwa mereka adalah orang yang sama di waktu berbeda. Aurora membawa energi segar dan kerentanan masa muda, terutama di adegan-adegan romansa yang polos tapi menyentuh. Iqbaal Ramadhan sebagai Rama tampil hangat dan autentik sebagai musisi jalanan yang setia tapi akhirnya terluka. Pemeran pendukung seperti Cut Mini Theo sebagai ibu Laras dan Asmara Abigail sebagai sahabat masa muda menambah kedalaman emosional. Secara keseluruhan, akting ensemble sangat kuat, terutama dalam adegan-adegan intim yang hanya mengandalkan dialog dan ekspresi wajah. Visual film indah dengan palet warna hangat untuk masa lalu dan lebih dingin untuk masa kini, ditambah musik orkestra ringan karya Abel Huray yang memperkuat nuansa nostalgia.

Elemen Nostalgia dan Refleksi Diri

Film ini unggul dalam membangkitkan rasa rindu tanpa jatuh ke jebakan klise. Elemen time-slip digunakan secukupnya—bukan untuk aksi besar, melainkan untuk refleksi. Penonton diajak melihat bagaimana pilihan kecil di masa muda bisa membentuk hidup puluhan tahun kemudian. Tema utama adalah pengampunan diri, hubungan ibu-anak, dan pertanyaan apakah kita akan mengubah masa lalu jika bisa. Ada kritik halus terhadap tekanan masyarakat agar perempuan “sukses” dengan mengorbankan kebahagiaan pribadi. Komedi muncul dari kontras antara Laras dewasa yang bijak tapi kaku dengan Laras muda yang impulsif dan penuh mimpi. Momen-momen kecil seperti Laras dewasa mencoba menari seperti dulu atau menulis pesan ke dirinya sendiri terasa menyentuh dan lucu sekaligus. Meski beberapa bagian tengah terasa agak lambat, film ini berhasil menjaga emosi tetap terjaga hingga akhir yang menghangatkan hati.

Kesimpulan

A Letter to My Youth adalah drama romansa yang tulus dan menyentuh, berhasil menggabungkan elemen nostalgia, time-slip ringan, dan refleksi hidup dewasa dengan cara yang elegan. Dian Sastrowardoyo dan Aurora Ribero membawa kedalaman emosional yang membuat cerita terasa pribadi, sementara arahan Kamila Andini menjaga nada hangat tanpa terlalu melodramatis. Meski bukan film revolusioner, ia berhasil jadi tontonan yang membuat penonton memikirkan kembali pilihan hidup mereka sendiri. Cocok untuk ditonton bersama keluarga atau sendirian saat ingin merenung. Skor keseluruhan: 8.5/10—surat cinta untuk masa muda yang membuat kita ingin memeluk diri sendiri di masa lalu.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *