Review Film A Moment to Remember. Film A Moment to Remember yang dirilis pada 2004 silam, kembali menjadi sorotan di akhir 2025 ini sebagai salah satu drama romantis Korea paling legendaris yang mampu membuat penonton menangis tersedu. Disutradarai oleh John H. Lee, cerita ini mengikuti pasangan Su-jin dan Chul-soo yang menghadapi ujian terberat ketika Su-jin didiagnosis Alzheimer dini. Dibintangi Son Ye-jin dan Jung Woo-sung, film ini langsung sukses besar saat tayang dan hingga kini sering disebut sebagai benchmark melodrama romantis. Di era digital sekarang, banyak penonton baru menemukannya kembali, membuatnya terasa relevan lagi dengan tema cinta yang bertahan melawan lupa dan waktu. BERITA BASKET
Sinopsis dan Perkembangan Emosi: Review Film A Moment to Remember
A Moment to Remember dimulai dengan pertemuan lucu antara Su-jin, seorang desainer yang pelupa, dan Chul-soo, mandor bangunan keras tapi setia. Mereka jatuh cinta cepat, menikah, dan menjalani kehidupan bahagia sederhana. Namun, keadaan berubah drastis saat Su-jin mulai kehilangan ingatan secara progresif akibat penyakit Alzheimer yang menyerang di usia muda.
Alur cerita dibagi menjadi dua fase jelas: bagian awal penuh tawa dan romansa ringan, lalu beralih ke drama mendalam saat penyakit semakin parah. Penonton diajak merasakan perjalanan dari kebahagiaan hingga keputusasaan, dengan momen-momen kecil seperti catatan tempel dan foto lama yang menjadi simbol perjuangan mempertahankan ingatan. Durasi sekitar 144 menit terasa panjang, tapi pacing yang lambat justru memperkuat dampak emosional, terutama di paruh kedua yang penuh air mata.
Penampilan Aktor dan Chemistry Pasangan: Review Film A Moment to Remember
Son Ye-jin memberikan penampilan terbaik dalam kariernya sebagai Su-jin, mampu menampilkan transformasi dari wanita ceria menjadi sosok rapuh yang berjuang melawan penyakitnya. Ia berhasil menyampaikan rasa takut, marah, dan cinta melalui ekspresi wajah serta suara yang gemetar, membuat penonton ikut merasakan kepedihannya. Jung Woo-sung sebagai Chul-soo tampil maskulin tapi lembut, menunjukkan pengorbanan tanpa batas dengan cara yang tenang dan menyentuh.
Chemistry keduanya luar biasa, terasa nyata dari momen jatuh cinta hingga saat-saat terberat. Interaksi mereka sederhana tapi kuat, seperti saat Chul-soo sabar mengulang cerita masa lalu atau Su-jin berusaha mengingat nama suaminya sendiri. Pemain pendukung juga solid, tapi fokus tetap pada duo utama yang membawa beban emosi seluruh film.
Visual dan Elemen Pendukung
Sinematografi film ini sederhana tapi efektif, dengan penggunaan warna hangat di bagian bahagia dan tone lebih dingin saat penyakit mendominasi. Adegan-adegan rumah tangga sehari-hari digambarkan realistis, membuat penonton mudah terhubung. Penggunaan close-up saat Su-jin kehilangan ingatan berhasil menangkap rasa kehilangan yang mendalam tanpa dialog berlebih.
Soundtrack-nya minimalis tapi ikonik, dengan musik piano yang melankolis mendampingi momen-momen kunci. Lagu-lagu instrumental itu masih sering diputar hingga sekarang, membangkitkan nostalgia bagi penonton lama. Kombinasi visual dan audio ini memperkuat tema bahwa cinta sejati bukan hanya tentang mengingat, tapi juga tentang tetap memilih satu sama lain setiap hari.
Kesimpulan
A Moment to Remember tetap menjadi mahakarya romansa Korea yang sulit ditandingi, berhasil menggabungkan cinta manis dengan tragedi nyata tanpa terasa manipulatif. Meski plotnya berat dan pasti membuat basah tisu, film ini meninggalkan pesan positif tentang kekuatan cinta dan pentingnya menghargai setiap momen bersama. Di akhir 2025 ini, sangat layak ditonton ulang bagi yang ingin merasakan emosi mendalam yang tulus. Bagi yang belum pernah, siapkan hati kuat karena film ini akan meninggalkan jejak lama. Setelah lebih dari dua dekade, ia masih membuktikan bahwa ada cinta yang lebih kuat daripada lupa itu sendiri.

