Review Film Ayat-Ayat Cinta. Film Ayat-Ayat Cinta yang dirilis pada 2008 kembali menjadi pembicaraan di awal 2026. Adaptasi novel bestseller karya Habiburrahman El Shirazy ini sering ditayangkan ulang di platform digital, menyusul diskusi hangat tentang nilai-nilai religius dalam perfilman Indonesia. Kisah romansa religius ini sukses fenomenal saat pertama tayang, mencatat lebih dari 3,7 juta penonton dan menjadi salah satu film Indonesia terlaris sepanjang masa. Hingga kini, karya ini tetap relevan, menginspirasi banyak orang dengan perpaduan cinta, iman, dan pengorbanan. BERITA BASKET
Plot dan Karakter Utama: Review Film Ayat-Ayat Cinta
Cerita berpusat pada Fahri, mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo. Ia hidup sederhana, taat beragama, dan menolak pacaran sebelum nikah. Kehidupannya berubah saat bertemu beberapa wanita: Maria, tetangga Kristen Koptik yang diam-diam mencintainya; Nurul, putri kyai yang mengaguminya; Noura, gadis Mesir yang menderita kekerasan keluarga; serta Aisha, wanita cantik yang jatuh cinta setelah Fahri membela Islam di kereta.
Fedi Nuril memerankan Fahri dengan natural dan meyakinkan, menampilkan sosok pria ideal yang rendah hati. Rianti Cartwright sebagai Aisha membawa kehangatan melalui mata ekspresifnya, sementara Carissa Putri sebagai Maria menyentuh dengan peran tragis. Zaskia Adya Mecca dan Melanie Putria melengkapi karakter pendukung dengan baik. Chemistry antar pemain membuat konflik cinta segi banyak terasa emosional dan relatable.
Elemen Religius dan Visual: Review Film Ayat-Ayat Cinta
Ayat-Ayat Cinta unggul dalam mengintegrasikan nilai Islam seperti kesabaran, keadilan, dan poligami yang bertanggung jawab. Film ini membahas isu sensitif seperti Islamofobia dan toleransi antaragama tanpa terasa menggurui. Latar Mesir digambarkan indah meski syuting dilakukan di India dan Semarang, dengan visual kota tua yang mendukung nuansa eksotis.
Disutradarai Hanung Bramantyo, karya ini menyajikan tempo lambat tapi penuh makna, diperkuat musik soundtrack yang menyentuh hati. Elemen religius menjadi daya tarik utama, membuat penonton merenung tentang arti cinta sejati dalam bingkai iman.
Kelebihan dan Kritik
Film ini dipuji karena kesetiaan pada novel, akting brilian para pemeran, serta pesan moral yang kuat. Banyak penonton terharu hingga menangis, terutama di adegan pengorbanan dan akhir bittersweet. Fenomena box office membuktikan ia membuka era film religius di Indonesia, bahkan mendapat rekor penonton terbanyak saat itu.
Namun, beberapa kritik menyebut karakter Fahri terlalu sempurna sehingga kurang realistis, serta penggambaran Mesir agak tidak akurat. Isu poligami dinilai idealis, dan durasi panjang membuat sebagian adegan terasa lambat. Meski begitu, kekurangan ini tak mengurangi dampak sebagai drama romantis berkualitas.
Kesimpulan
Ayat-Ayat Cinta tetap jadi mahakarya romansa religius Indonesia yang abadi. Di awal 2026 ini, tayangan ulangnya mengingatkan bahwa cinta sejati tak lepas dari iman dan pengorbanan. Dengan performa aktor memukau dan pesan mendalam, film ini layak ditonton ulang untuk merasakan kehangatan kisah Fahri yang inspiratif. Secara keseluruhan, ini adalah karya ikonik yang berhasil menyentuh hati jutaan orang, membuktikan kekuatan cerita sederhana tapi penuh makna.

