Review Film Dear David: Isu Sensitif Remaja. Film Dear David (2025), adaptasi Indonesia dari kisah viral Twitter karya Mike Monello yang sempat menjadi fenomena horor psikologis global, resmi tayang di bioskop Indonesia sejak 13 Februari 2025 dan hingga Februari 2026 masih menjadi salah satu film lokal paling banyak dibicarakan, terutama di kalangan remaja dan orang tua. Disutradarai oleh sutradara muda berbakat Rako Prijanto dan dibintangi Angga Yunanda sebagai David serta Caitlin Halderman sebagai sahabatnya, film ini berhasil menarik lebih dari 2,9 juta penonton di bioskop domestik. Berbeda dengan versi internasional yang lebih condong ke supernatural, versi Indonesia ini memilih pendekatan realisme psikologis: “Dear David” bukan hantu sungguhan, melainkan manifestasi trauma bullying, tekanan media sosial, dan rasa kesepian remaja yang tidak terdeteksi. Film ini menjadi cermin tajam tentang isu sensitif remaja di era digital—depresi, self-harm, cyberbullying, dan bagaimana satu postingan viral bisa menghancurkan nyawa seseorang. BERITA BASKET
Cerita yang Berpindah dari Viral ke Tragedi Nyata: Review Film Dear David: Isu Sensitif Remaja
Dear David mengisahkan David, siswa SMA biasa yang tiba-tiba menjadi viral setelah memposting foto “bertemu hantu” di Twitter (kini X). Postingan itu awalnya hanya lelucon untuk mendapatkan perhatian, tapi lambat laun berubah menjadi obsesi kolektif netizen. Ribuan orang mulai mengirim pesan “Dear David” dengan berbagai cerita seram, teori konspirasi, hingga ancaman. David yang semula senang karena follower-nya melonjak, perlahan merasa terjebak: ia mulai mengalami mimpi buruk, paranoia, dan tekanan untuk terus “menghibur” audiens dengan konten horor yang semakin ekstrem.
Film ini tidak mengandalkan jumpscare murahan atau hantu visual; ketegangannya justru datang dari notifikasi ponsel yang tak henti, komentar kejam di kolom balasan, dan tatapan kosong David setiap kali membuka aplikasi. Caitlin Halderman sebagai sahabat yang berusaha menarik David keluar dari lingkaran itu memberikan penampilan emosional yang kuat—ia menjadi satu-satunya orang yang benar-benar peduli, tapi sering kali tidak didengar. Adegan paling menyayat adalah ketika David mulai melakukan self-harm untuk “membuktikan” cerita hantunya, dan netizen malah semakin antusias.
Isu Sensitif Remaja yang Diangkat Secara Berani: Review Film Dear David: Isu Sensitif Remaja
Film ini berani menyentuh beberapa isu sensitif yang jarang dibahas secara terbuka dalam film remaja Indonesia: cyberbullying yang berujung depresi berat, tekanan validasi dari like dan share, dampak FOMO (fear of missing out), dan normalisasi konten “dark” di kalangan remaja. Salah satu adegan paling kuat adalah ketika David membaca komentar “kalau kamu mati beneran pasti lebih viral”—kalimat yang terdengar seperti lelucon tapi sebenarnya menjadi pemicu pikiran berbahaya.
Angga Yunanda sebagai David berhasil menampilkan transformasi dari remaja biasa yang ingin diakui menjadi sosok yang hancur secara mental. Ia tidak berakting berlebihan; justru kesunyian dan tatapan kosongnya yang membuat penonton merasa tidak nyaman. Film ini juga berhasil menunjukkan peran orang tua dan sekolah yang sering kali terlambat menyadari tanda-tanda bahaya karena terlalu sibuk dengan urusan lain.
Makna Lebih Dalam: Bahaya Validasi Digital bagi Remaja
Di balik cerita horor psikologis, Dear David adalah peringatan keras tentang bahaya validasi digital bagi remaja yang sedang mencari identitas diri. “Dear David” menjadi simbol bahwa satu postingan viral bisa mengubah hidup seseorang dalam sekejap—dari orang biasa menjadi “konten”, lalu menjadi korban. Film ini menunjukkan bahwa di balik layar yang penuh like dan share, sering tersembunyi rasa kesepian, insecure, dan pikiran berbahaya yang tidak terdeteksi.
Banyak penonton—terutama remaja dan orang tua—merasa film ini seperti pengingat bahwa anak muda butuh ruang aman untuk berekspresi tanpa tekanan performa di depan kamera. Pesan terdalamnya adalah bahwa “viral” bukan ukuran nilai diri, dan bahwa satu komentar kejam bisa menjadi pemicu yang menghancurkan nyawa seseorang.
Kesimpulan
Dear David adalah film yang langka: mencekam sekaligus sangat relevan, ringan di permukaan tapi berat maknanya, dan berani menyentuh isu sensitif tanpa terasa menggurui. Kekuatan utamanya terletak pada penampilan kuat Angga Yunanda sebagai remaja yang hancur karena tekanan digital, arahan Rako Prijanto yang cerdas dalam membangun ketegangan psikologis, serta pesan bahwa validasi dari like dan share bukan pengganti kasih sayang dan perhatian nyata. Film ini berhasil menjadi cermin bagi remaja, orang tua, dan masyarakat tentang bahaya media sosial yang sering diabaikan. Di tengah banjir film remaja yang penuh drama ringan, Dear David menawarkan kejujuran yang menyegarkan sekaligus menyentuh. Jika kamu mencari tontonan yang menghibur sekaligus membuat berpikir tentang dampak media sosial pada kesehatan mental remaja, film ini sangat direkomendasikan—tapi siapkan hati, karena cerita ini terasa sangat nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dear David bukan sekadar film horor psikologis; ia adalah peringatan kuat bahwa di balik layar yang penuh senyum dan like, sering tersembunyi perjuangan batin yang berat. Dan itu, pada akhirnya, adalah makna paling penting dari sebuah film.
