Review Film Impetigore: Kutukan Desa Jahat.Di antara film horor Indonesia yang terus dikenang hingga awal 2026, Impetigore (judul internasional Perempuan Tanah Jahanam) karya Joko Anwar tetap menjadi salah satu karya paling ikonik dan menyeramkan. Tayang perdana pada 17 Oktober 2019 di bioskop Indonesia dan kemudian meraih distribusi global melalui Shudder, film ini langsung menjadi sensasi dengan rating tinggi di berbagai platform dan berhasil masuk nominasi International Feature Film di Academy Awards 2020. Berlatar desa terpencil di Jawa bernama Harjo, Impetigore mengikuti Maya (Tara Basro) yang pulang ke kampung halamannya setelah dipecat dan kehilangan tempat tinggal, hanya untuk menemukan bahwa desa itu menyimpan rahasia kelam berupa kutukan dan tradisi jahat yang melibatkan anak-anak perempuan. Dengan atmosfer mencekam, visual gelap, dan twist yang tak terduga, film ini bukan sekadar horor supranatural; ia adalah potret kutukan desa jahat yang menggali trauma kolektif, patriarki, dan harga yang dibayar atas dosa masa lalu. INFO CASINO
Latar Belakang Film: Review Film Impetigore: Kutukan Desa Jahat
Impetigore merupakan film horor orisinal Joko Anwar setelah kesuksesan Satan’s Slaves (2017). Joko menulis dan menyutradarai sendiri, dengan Tara Basro sebagai Maya—seorang perempuan kota yang kembali ke desa setelah menerima surat warisan dari ayahnya yang tak pernah dikenalnya. Ade Irawan sebagai Ki Saptu, tetua desa yang misterius, Marissa Anita sebagai Dini, dan Ario Bayu sebagai Danu melengkapi pemeran utama. Syuting dilakukan di desa terpencil di Jawa Timur dengan pendekatan visual yang gelap dan claustrophobic: rumah-rumah kayu tua, hutan lebat, dan pencahayaan minim yang membuat setiap sudut terasa mengancam. Sound design oleh Mohamad Ikhsan S. dan musik oleh Zeke Khaseli memperkuat rasa takut psikologis tanpa mengandalkan jump scare murahan. Film ini tayang di bioskop saat Halloween 2019 dan langsung menjadi box office sukses di Indonesia, kemudian meraih distribusi internasional yang membuatnya dikenal sebagai salah satu horor Asia Tenggara terbaik dekade itu.
Analisis Tema dan Makna: Review Film Impetigore: Kutukan Desa Jahat
Makna inti Impetigore adalah kutukan desa jahat yang lahir dari patriarki dan pengorbanan perempuan. Desa Harjo menyimpan tradisi kelam: untuk mematahkan kutukan yang membuat anak perempuan lahir cacat atau mati, warga mengorbankan bayi perempuan dari keluarga tertentu setiap generasi. Maya, yang ternyata anak dari keluarga “terkutuk”, menjadi target utama ritual itu. Joko Anwar menggunakan horor sebagai medium untuk mengkritik budaya yang menyalahkan perempuan atas masalah keluarga atau desa—di mana perempuan selalu jadi korban, baik sebagai ibu, anak, atau istri.
Film ini penuh simbol: wayang kulit yang muncul berulang kali melambangkan bagaimana masa lalu mengendalikan masa kini seperti dalang, sementara penyakit kulit impetigo (yang jadi judul asli) menjadi metafora penyakit moral yang menular di masyarakat. Adegan-adegan kekerasan tak berlebihan tapi efektif—seperti pembakaran tubuh atau ritual di hutan—membuat penonton merasa jijik dan takut sekaligus. Twist akhir yang mengungkap peran ayah Maya dan ibu angkatnya menambah lapisan: kutukan bukan sekadar supranatural, melainkan hasil dari keputusan manusia yang egois dan patriarkal. Secara keseluruhan, Impetigore adalah horor sosial yang cerdas—menggunakan hantu dan kutukan untuk membongkar trauma kolektif masyarakat desa yang masih kuat memegang tradisi kelam demi “kebaikan bersama”.
Dampak dan Resepsi Publik
Sejak rilis, Impetigore mendapat pujian luas karena berhasil mengangkat horor Indonesia ke level internasional dengan kualitas produksi yang setara film Barat. Tara Basro dipuji karena penampilan yang rapuh tapi kuat, sementara Joko Anwar dinobatkan sebagai salah satu sutradara horor terbaik Asia. Film ini memenangkan Piala Citra untuk Best Picture dan Best Director di FFI 2019, serta masuk nominasi di berbagai festival internasional. Di luar negeri, Impetigore menjadi pintu masuk bagi banyak penonton untuk mengenal horor Indonesia, sering dibandingkan dengan The Wailing atau The Medium karena kekuatan folk horror-nya. Di Indonesia, film ini memicu diskusi tentang kekerasan terhadap perempuan, tradisi yang merugikan, dan pentingnya merefleksikan budaya sendiri. Hingga 2026, Impetigore masih sering masuk daftar “best Indonesian horror” di Netflix dan Shudder, dengan penonton baru terus bermunculan dan memuji bagaimana film ini tak hanya menakutkan tapi juga membuat penonton berpikir.
Kesimpulan
Impetigore adalah masterpiece horor Indonesia yang menggambarkan kutukan desa jahat dengan cara paling gelap dan cerdas—sebuah film di mana hantu bukan monster terbesar, melainkan tradisi dan patriarki yang terus menyakiti generasi berikutnya. Joko Anwar berhasil menyatukan atmosfer mencekam, twist yang memuaskan, dan kritik sosial yang tajam dalam satu paket yang tak mudah dilupakan. Di 2026 ini, ketika horor lokal terus berkembang, film ini tetap jadi benchmark: bahwa horor terbaik bukan hanya tentang takut, tapi tentang menghadapi kenyataan yang lebih menyeramkan dari hantu itu sendiri. Jika Anda belum menonton ulang atau baru ingin mencobanya, matikan lampu dan siapkan hati—Impetigore akan membuat Anda takut, merinding, dan mungkin memikirkan ulang tentang cerita-cerita desa yang selama ini dianggap biasa saja.
