Review Film Kuyang: Teror Hantu Kepala Terbang. Di antara film horor Indonesia yang terus mengisi jadwal bioskop, Kuyang (2024) garapan Rizal Mantovani menjadi salah satu judul paling ramai dibicarakan sejak tayang 7 November 2024. Film ini berhasil menarik lebih dari 5 juta penonton dalam dua bulan pertama dan masih sering muncul dalam diskusi horor lokal hingga Februari 2026. Berlatar di pedalaman Kalimantan Barat, cerita mengikuti Bimo (Dimas Aditya), dokter muda yang pulang ke desa asalnya untuk menjemput adik perempuannya yang sakit. Kunjungan yang seharusnya singkat itu berubah menjadi mimpi buruk ketika desa mulai dihantui teror hantu kepala terbang—Kuyang—yang konon mencari korban untuk memperpanjang hidupnya. Dengan durasi 103 menit, film ini tidak hanya mengandalkan penampakan menyeramkan, melainkan juga membangun ketegangan lewat atmosfer hutan lembap, suara angin malam, dan ritual-ritual lokal yang terasa nyata. Review ini mengupas makna di balik cerita, fokus pada tema teror hantu kepala terbang sebagai simbol luka keluarga yang tersembunyi dan pengorbanan yang tak pernah selesai. BERITA BASKET
Sinopsis dan Alur yang Meningkatkan Ketegangan: Review Film Kuyang: Teror Hantu Kepala Terbang
Bimo, dokter kota yang skeptis, pulang ke desa untuk menjemput adiknya yang sakit. Desa itu tampak biasa saja, tapi warga sering berbisik tentang “Kuyang”—hantu kepala terbang yang konon muncul setiap ada orang asing yang membawa “dosa besar”. Semakin lama Bimo tinggal, semakin banyak kejadian aneh terjadi: suara kepala berguling di atap malam hari, bayangan tanpa tubuh yang melayang di antara pepohonan, dan mimpi buruk yang semakin nyata. Alur bergerak lambat di paruh pertama untuk menanam rasa curiga, lalu dipercepat di paruh kedua ketika Bimo menemukan bahwa kematian ayahnya bertahun-tahun lalu bukan kecelakaan, melainkan bagian dari “pembayaran” ritual Kuyang yang diwariskan keluarganya. Rizal Mantovani pintar memanfaatkan elemen budaya Dayak dan mitos Kalimantan—Kuyang bukan hantu generik, melainkan makhluk yang lahir dari pengkhianatan dan pengorbanan manusia. Yang menakutkan bukan hanya kepala terbang itu sendiri, melainkan rasa bersalah keluarga yang terus mengulang siklus korban demi menjaga “keseimbangan”.
Kekuatan Sinematik dan Makna Teror Hantu Kepala Terbang: Review Film Kuyang: Teror Hantu Kepala Terbang
Sinematografi film ini menggunakan warna-warna gelap dan pencahayaan rendah khas hutan Kalimantan malam hari untuk menciptakan rasa lembap dan terintimidasi. Rumah panggung kayu, sungai keruh, dan hutan lebat menjadi latar yang sangat mendukung atmosfer horor tradisional. Tema teror hantu kepala terbang di sini bukan sekadar mitos menakutkan, melainkan simbol luka keluarga yang diturunkan: ayah Bimo pernah terlibat dalam ritual Kuyang yang mengorbankan nyawa orang terdekat demi kekayaan atau kekuatan, dan kini kutukan itu menuntut pembalasan pada keturunannya. Kematian misterius ayah menjadi pemicu, tapi teror sebenarnya adalah rasa bersalah yang tak pernah diakui keluarga—sebuah warisan yang jauh lebih berat daripada tanah atau uang. Rizal Mantovani juga menyisipkan kritik halus terhadap budaya yang terlalu bergantung pada jalan pintas gaib, serta sikap masyarakat desa yang lebih memilih diam demi menjaga “keseimbangan” daripada menghadapi akibatnya. Performa Dimas Aditya sebagai Bimo terasa sangat natural—ia berhasil menyampaikan rasa takut, marah, dan kebingungan seorang anak yang harus menghadapi dosa leluhurnya. Adegan klimaks di tengah hutan malam hari menjadi puncak yang sangat mencekam, menggabungkan elemen alam dengan horor psikologis yang kuat. Ending film yang terbuka membuat penonton terus memikirkan: apakah teror itu benar-benar berakhir, atau hanya menunggu keluarga lain yang putus asa untuk memanggilnya lagi?
Dampak Budaya dan Relevansi di 2026
Sampai Februari 2026, Kuyang masih sering disebut sebagai salah satu horor Indonesia yang berhasil menggabungkan elemen mistis tradisional Kalimantan dengan konflik keluarga yang sangat relatable. Banyak penonton muda menggunakan cuplikan dialog seperti “Kuyang itu bukan dari hutan, tapi dari dosa kita sendiri” sebagai caption di media sosial untuk menggambarkan beban keluarga yang tak terucapkan. Film ini juga kerap dijadikan bahan diskusi tentang mitos Kuyang dalam konteks modern—bagaimana cerita rakyat yang seolah “menakut-nakuti anak” sebenarnya menyimpan luka dan pengorbanan yang sangat manusiawi. Di era di mana isu kesehatan mental keluarga dan siklus trauma semakin banyak dibahas, pesan film ini terasa semakin relevan: teror gaib sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari rasa bersalah dan rahasia keluarga yang tak kunjung diungkap.
Kesimpulan
Kuyang bukan sekadar film horor yang mengandalkan penampakan hantu kepala terbang; ia adalah potret gelap tentang teror gaib jin penolong yang sebenarnya berakar dari rasa bersalah keluarga dan pengorbanan yang diwariskan lintas generasi. Rizal Mantovani berhasil mengemas cerita yang menyeramkan sekaligus mengajak penonton merenung tentang harga sebuah “keseimbangan” yang terlalu mahal. Di tengah Februari 2026, film ini masih relevan sebagai pengingat bahwa teror terbesar bukan selalu datang dari dunia gaib, melainkan dari rahasia keluarga yang tak pernah diungkap dan terus diulang. Bagi siapa pun yang pernah merasa ada “beban tak terlihat” dari orang tua atau leluhur, film ini terasa seperti bisikan dingin: ya, hantu itu nyata—dan kadang lebih menakutkan daripada apa pun yang bisa dibayangkan.
