Review Film Volcano. Film Volcano (1997) tetap menjadi salah satu film bencana paling ikonik dan menghibur dalam genre ini hingga tahun 2026. Cerita berpusat pada letusan gunung berapi fiktif yang tiba-tiba muncul di tengah kota Los Angeles, mengubah jalan-jalan sibuk menjadi lautan lava panas. Mike Roark, kepala layanan darurat kota, harus bekerja sama dengan ahli vulkanologi Amy Barnes untuk menyelamatkan ribuan nyawa di tengah kekacauan yang semakin memburuk. Dengan tempo cepat, visual efek yang mengesankan pada masanya, dan fokus pada aksi penyelamatan di skala kota, film ini berhasil menciptakan sensasi bencana urban yang masih sering ditonton ulang ketika orang membahas film tentang kehancuran kota besar. Meski usianya sudah hampir tiga dekade, Volcano tetap punya daya tarik yang kuat berkat ritme tanpa henti dan ketegangan yang terjaga. BERITA VOLI
Plot yang Berfokus pada Aksi dan Keputusan Cepat: Review Film Volcano
Alur cerita dimulai dengan gejala kecil yang mengkhawatirkan: getaran tanah, asap dari saluran pembuangan, dan kematian misterius di terowongan bawah tanah. Mike Roark awalnya menganggapnya sebagai masalah teknis biasa, tapi ketika lava mulai muncul di jalan-jalan Los Angeles, situasi langsung menjadi darurat nasional. Amy Barnes, seorang ahli vulkanologi yang baru tiba di kota, menjadi kunci untuk memahami bahwa ini bukan sekadar kebocoran gas—melainkan letusan gunung berapi baru di bawah kota.
Film ini tidak membuang waktu untuk pengenalan panjang. Setelah gejala pertama muncul, lava langsung membanjiri jalan, membakar kendaraan, dan mengancam ribuan orang. Mike harus membuat keputusan sulit: menutup jalan, mengevakuasi gedung, atau membangun bendungan darurat dari beton untuk mengalihkan aliran lava. Konflik utama terletak pada pertarungan melawan waktu—setiap menit berarti ratusan nyawa. Ada juga subplot kecil tentang putri Mike yang terjebak di pusat kota, menambah taruhan pribadi tanpa mengganggu fokus utama.
Ritme film sangat cepat dan efektif. Tidak ada adegan yang terasa lambat; setiap bagian membawa eskalasi baru, dari lava yang mengalir di jalan hingga ledakan gas di bawah tanah. Ending yang dramatis—dengan upaya terakhir menyelamatkan kota—memberikan kepuasan tanpa terasa terlalu berlebihan.
Visual Efek dan Adegan Bencana yang Masih Mengesankan: Review Film Volcano
Visual menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Adegan lava mengalir di jalan-jalan Los Angeles dibuat dengan campuran praktikal dan CGI awal 90-an yang terasa sangat nyata. Aliran lava panas yang membakar mobil, melelehkan aspal, dan menghancurkan bangunan terlihat mengancam dan mematikan. Efek suara gemuruh tanah, deru lava, dan jeritan orang-orang menciptakan rasa panik yang konstan.
Beberapa adegan ikonik seperti lava yang menyembur dari trotoar, helikopter yang nyaris terbakar, atau upaya membangun bendungan beton di tengah aliran lava tetap menjadi momen yang paling diingat. Meski teknologi visual sudah jauh lebih maju sekarang, eksekusi praktikal (lava buatan dari campuran pewarna dan bahan kimia) memberikan tekstur dan realisme yang sulit ditandingi CGI murni. Film ini berhasil membuat penonton merasa bahwa bencana ini benar-benar bisa terjadi di kota besar mana pun.
Kelemahan dan Kekuatan yang Tetap Relevan
Film ini memang punya kekurangan. Beberapa subplot karakter terasa klise, seperti hubungan ayah-anak yang terlalu cepat diselesaikan atau konflik antar pejabat yang terlalu sederhana. Akurasi ilmiah juga longgar—letusan gunung berapi di tengah kota besar seperti itu hampir mustahil secara geologi. Namun dalam genre bencana, hal-hal seperti itu justru menjadi bagian dari kesenangan: penonton datang untuk sensasi, bukan kuliah vulkanologi.
Kekuatan terbesar Volcano terletak pada eksekusi aksi yang solid dan fokus pada penyelamatan manusia. Tidak seperti beberapa film bencana yang terlalu bergantung pada kehancuran massal, film ini menekankan upaya heroik orang biasa—petugas darurat, relawan, dan warga sipil—yang berjuang melawan alam. Pesan tentang kerja sama dan ketangguhan di saat krisis terasa hangat meski disampaikan dengan cara sederhana.
Kesimpulan
Volcano adalah film bencana yang sukses besar dalam memberikan apa yang diharapkan penonton: aksi intens, visual lava yang mengesankan, dan ketegangan tanpa jeda. Ia tidak mencoba jadi film drama berat atau komentar sosial mendalam, melainkan hiburan murni dengan skala kota besar yang terasa nyata. Di tahun 2026, ketika berita tentang aktivitas vulkanik dan bencana alam semakin sering muncul, film ini terasa seperti pengingat ringan sekaligus mendebarkan tentang kerentanan kota modern. Jika Anda mencari tontonan yang membuat adrenalin terpacu dari awal hingga akhir, Volcano masih jadi pilihan tepat dalam genre bencana klasik. Lava mengalir, kota panik, dan pahlawan berjuang—semua disajikan dengan cara yang langsung dan menghibur.

