Review Film What We Do in the Shadows. Film What We Do in the Shadows yang dirilis pada 2014 tetap menjadi salah satu mockumentary comedy paling segar dan lucu hingga tahun 2025. Disutradarai dan dibintangi oleh Taika Waititi serta Jemaine Clement, film ini mengikuti kehidupan sehari-hari empat vampir yang tinggal serumah di Wellington, Selandia Baru, dalam format dokumenter palsu. Mereka berjuang dengan masalah rumah tangga abadi seperti membersihkan darah korban, bertengkar dengan werewolf, dan menghadapi dunia modern. Dengan humor deadpan dan satire tajam terhadap trope vampir, film ini sukses jadi kultus favorit yang melahirkan serial TV populer, tapi versi original tetap yang paling orisinal dan ringkas. BERITA BOLA
Gaya Mockumentary dan Humor Deadpan: Review Film What We Do in the Shadows
Gaya Mockumentary dan Humor Deadpan menjadi kekuatan utama yang bikin film ini beda dari vampire comedy lain. Format wawancara langsung ke kamera dan footage “behind the scenes” ciptakan rasa autentik, seolah kita benar-benar mengintip kehidupan vampir biasa. Humornya datang dari kontras antara mitos vampir klasik—mereka abadi, kuat, dan misterius—dengan realitas konyol seperti debat siapa yang cuci piring berlumur darah atau Viago yang terlalu sopan saat bunuh korban. Adegan seperti pertemuan vampir bulanan atau konfrontasi dengan werewolf yang saling hina jadi puncak tawa karena dialog improvisasi yang natural dan timing sempurna. Gaya deadpan ini tak pernah paksa lucu, tapi justru bikin penonton ngakak karena absurditas situasi yang disampaikan dengan wajah serius.
Karakter Vampir yang Ikonik dan Relatable: Review Film What We Do in the Shadows
Karakter Vampir yang Ikonik dan Relatable adalah alasan film ini punya hati di balik kegilaan. Viago yang rapi dan romantis, Vladislav yang dramatis ala Dracula, Deacon yang rebel tapi malas, dan Petyr yang tua bangka mirip Nosferatu ciptakan dinamika rumah tangga yang lucu tapi endearing. Mereka bertengkar soal tugas rumah, iri satu sama lain, dan berusaha adaptasi dengan teknologi modern seperti internet atau klub malam. Saat manusia biasa seperti Nick bergabung jadi vampir baru, chaos semakin besar dengan egonya yang tinggi. Karakter-karakter ini tak hanya parodi trope vampir, tapi juga relatable sebagai teman serumah yang ribut tapi saling peduli—tema persahabatan abadi di tengah keabadian yang membosankan.
Dampak Budaya dan Legacy di Tahun 2025
Dampak Budaya dan Legacy di Tahun 2025 menunjukkan betapa film ini masih relevan dan dicintai. Saat rilis dengan budget kecil, ia sukses festival dan box office, lalu melahirkan serial TV yang berjalan panjang dengan spin-off. Di 2025, film original sering dibahas ulang sebagai yang mulai tren vampire comedy modern yang lebih ringan dan humanis. Legacy-nya terlihat dari pengaruh pada mockumentary horor seperti serial serupa, dan kutipan seperti “We’re werewolves, not swear-wolves” jadi meme abadi. Pesan tentang rutinitas abadi yang tetap penuh drama kecil masih resonan, apalagi di era di mana vampir sering digambarkan terlalu serius atau romantis berlebih. Re-watch value tinggi karena detail lucu seperti latar belakang rumah yang penuh artefak vampir.
Kesimpulan
What We Do in the Shadows adalah mockumentary comedy yang brilian karena berhasil satire trope vampir dengan humor deadpan, karakter relatable, dan format inovatif yang terasa segar. Di tahun 2025, film ini tetap jadi pilihan utama untuk tawa cerdas tanpa gore berlebih atau klise romantis. Taika Waititi dan Jemaine Clement ciptakan dunia vampir yang absurd tapi humanis, membuat penonton peduli pada makhluk abadi yang ribut soal piring kotor. Jika suka comedy yang pintar, aneh, dan penuh quotable moment, ini wajib ditonton ulang—dijamin masih bikin ngakak dan tersenyum. Film ini bukti bahwa horor comedy bisa jadi masterpiece jika punya hati dan timing sempurna.

